Benarkah Dokter adalah Garda Terdepan Penanganan Covid-19?
![]() |
| Sumber : liputan6.com |
Belakangan seringkali kita melihat seruan-seruan di sosial media tentang gerakan membantu para dokter sebagai elemen terpenting dalam hal yang penanganan Covid-19. Sebut saja mereka sebagai Garda Terdepan perjuangan melawan virus lincah ini. Seruan itu baik berupa ajakan donasi Alat Pelindung Diri (APD), vitamin atau doa-doa terbaik untuk mereka. Hal ini tentu sangat baik dan harus didukung oleh semua lapisan masyarakat dalam membantu kinerja para dokter dan jajarannya.
Efek dari seruan itu, Alhamdulillah banyak pihak yang mulai bergerak memberi bantuan. Baik dari lembaga-lembaga filantropi, komunitas mahasiswa, kepemudaan, komunitas alumni sekolah kesehatan dan lain-lain. Mudah-mudahan bantuan yang diluncurkan dapat membantu para dokter dalam menangani kasus pasien Covid-19 dan pemberantasannya.
Namun, saya berpikir bahwa "Bukan Dokter" yang berada di garis depan. Maaf, mungkin ada sebagian orang yang tidak sependapat dengan pernyataan ini. Karena dunia telah mencatat bahwa sudah ada dokter-dokter yang gugur sebagai pahlawan wabah Covid-19 ini. Mereka rela meninggalkan keluarga di rumah demi bekerja keras di Rumah Sakit (RS) menangani pasien-pasien yang berdatangan. Sejak status Pasien Dalam Pantauan (PDP) sampai kepada penentuan positif dan negatifnya Covid-19 pada tubuh seseorang. Bahkan ada juga yang tertangkap kamera dan tersebar di sosial media foto-foto mereka yang kelelahan, kurang tidur, tempat istirahat yang kurang nyaman (lorong-lorong), ketersediaan APD yang mengkhawatirkan, hingga memberikan anti virus cadangan karena obat virus ini belum ditemukan. Kerja pejuang yang tidak tergantikan. Semoga semua perjuangan ini akan menjadi saksi kalian menemukan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.
Kembali lagi kepada pernyataan tentang "bukan dokter sebagai garda terdepan". Dengan tidak mengurangi pemuliaan saya kepada dokter dan tim medis, saya mengatakan bahwa dokter justru adalah garda terakhir dari perjuangan melawan Covid-19. Saya hadirkan ilustrasi berikut, semoga semakin membawa kita pada arah pemahaman yang sama,
![]() |
| Sumber : Kemenkes RI |
Nah, dari gambar di atas apakah sudah terbaca kemana arah tulisan ini teman-teman? :-)
Mari perhatikan gambar di atas dengan seksama, mulai dari gambar pesawat terus ke bawah ada pilihan Ya/Tidak dan seterusnya sampai pada angka 119. Kemudian lihat ilustrasi kedua pada gambar berikut.
![]() |
| Sumber : BNPB |
Bagaimana dengan gambar ini?
Sebelum para dokter dan tim medis berjibaku di rumah sakit-rumah sakit atau bangunan darurat yang disiapkan untuk pengobatan. Sebelum ranjang-ranjang IGD datang menyambut. Kita tidak boleh melupakan bahwa ada rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum itu. Boleh jadi bagi masyarakat pedesaan mendatangi tabib pada saat sakit. Lalu apakah Sang Garda Terdepan itu seorang tabib? Tentu bukan. Aah, misterius sekali bukan?
Sosok yang berada di garda terdepan itu adalah KAMU. Manusia sehat sebelum sakit.
Mantra "lebih baik mencegah daripada mengobati" rasanya masih sangat relevan dan berlaku dalam hal ini. Bahwa menjaga pola hidup sehat, isolasi di rumah, Social Distancing, dan energi positif yang ada dalam diri kita akan menjadi metode paling tepat untuk mencegah sebaran virus ini dan menjadikan kita sehat tanpa harus bermuara ke garda terakhir perjuangan Covid-19 (baca : dokter dan tim medis)
Percaya atau tidak bahwa para dokter dan tim medis akan berterima kasih kepada kita, jika kita mampu mengurus kesehatan secara mandiri, menjaga keseimbangan imun tubuh, dan menjadi manusia yang bijaksana. Maka seharusnya itu cara yang paling efektif membantu mereka. Mereka tidak perlu kelelahan yang teramat sangat, kehilangan waktu bersama keluarga, bahkan sampai kehilangan kehidupan mereka. Sekali lagi saya katakan bahwa sosok yang berada di Garda Terdepan untuk menyelesaikan wabah ini adalah KAMU. Yang akan memutus mata rantai penyebaran virus ini adalah KAMU, bukan orang lain. Bayangkan saja, jika satu orang berpotensi menularkan kepada setidak-tidaknya empat orang di sekitar kita, maka alangkah banyaknya orang yang akan tertular. Tetapi, jika kita memutus mata rantai itu, maka setidaknya kita telah menge-save empat orang di sekitar kita. Sederhana bukan? Tapi, kamu tidak akan menjadi sosok Garda Terdepan jika kamu masih berpikir bahwa, bukan urusanmu penanganan virus ini, tapi urusan tim medis dan para dokter. Disayangkan sekali.
Saya ucapkan terima kasih kepada kamu yang sampai hari ini menjadi Garda Terdepan melindungi diri dan orang -orang sekitar dari penyebaran Covid-19. Terima kasih kepada kamu yang setiap hari telah disiplin membentengi kesehatan sendiri dan keluarga. Terima kasih kepada kamu yang sampai hari ini terus menjaga energi positif dalam diri bahwa wabah akan mereda. Dan terima kasih kepada kamu yang sampai hari ini telah tetap tinggal membantu para pekerja kesehatan. Terimakasih kepada kamu yang bijaksana mengelola informasi tentang Covid-19. You are hero!
Teruntuk Para Dokter tercinta, janganlah bersedih bila dalam tulisan ini, kalian disebut sebagai Garda Terakhir dalam kasus Covid-19. Justru dengan sebutan itu kebanggaanku kian berlipat ganda. Umpama sebuah tes masuk akademi kepolisian, kalian adalah tes penentuan terakhir. Atau umpamanya adalah kalian terminal terakhir perjalanan sebuah bus. Mengirimkan sinyal bahwa tujuan telah tiba. Bahagia sekali rasanya hati para penumpang. Atau kalian adalah umpama keluarga di rumah yang menanti kepulangan Ayah yang bekerja seharian, menyimpan ruang harapan pengobat lelah dan putus asa.
Saat orang-orang kehilangan cara dan harapan, mereka pada akhirnya akan datang menemuimu. Tidak ada pilihan lain kecuali mendengar petuahmu dan merasakan sentuhan tangan tulusmumu. Tidak ada pilihan lain. Maka, bagiku kalian bukan saja menjadi Garda Terakhir yang membawa harapan, tapi kalian adalah "purnama" yang dinanti seba'da gulita.
Terima dokter-dokter Indonesia!
Terima kasih rakyat Indonesia!
Ayo bangkit dan menyiapkan hidup setelah Corona bersama-sama sebagai sebuah bangsa!
Semoga Bermanfaat!!!



Komentar
Posting Komentar