6 Tips Solutif Healthy Parenting ala WHO
![]() |
| Sumber : positivechoice.com |
World Health Organization atau yang biasa disingkat WHO, adalah organisasi kesehatan dunia yang berdiri sejak 7 April 1948. Organisasi dunia yang konsentrasi mengurus bidang kesehatan baik di negara maju maupun berkembang. Kontribusinya dalam hal penanganan Covid-19 pun tidak diragukan lagi. Setidaknya memberikan himbauan-himbauan kepada masyarakat dunia bagaimana seharusnya bersikap.
Kali ini saya akan share tentang Healthy Parenting yang dirumuskan oleh WHO dalam menjaga kestabilan keluarga di tengah situasi wabah yang belum mereda. Poin-poin Healthy Parenting tersebut adalah sebagai berikut.
1. One-on-One Time (Satu Orang Satu Waktu)
Tidak dapat pergi bekerja? Sekolah libur? Khawatir keuangan? Adalah hal yang wajar untuk merasa stres dan kewalahan. Tapi, tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan terus menerus kan? Nah, bagian pertama ini WHO memberikan tips One-on-one time.
- Atur waktu untuk masing-masing anak, sekitar 20 menit atau lebih, terserah berapa lamanya. Boleh sama di setiap harinya atau lihat perkembangan anak.
- Tanyakan pada anak apa yang ingin mereka lakukan, untuk membangun kepercayaan diri mereka. Namun, jika mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Physical Distancing, cukup ajak bicara tentang itu.
- Berkreasi dengan anak bayi. Bagian ini bisa dilakukan dengan permainan menyenangkan seperti membuat copy-an wajah anak beserta ekspresinya lalu diiringi dengan musik, bernyanyi bersama menggunakan pot dan spon, menumpuk cangkir atau kotak, bercerita, membaca buku, dan berbagi gambar.
- Berkreasi dengan anak kecil dengan membaca, menggambar, menari, atau membantu tugas sekolah mereka.
- Berkreasi dengan anak remaja. Ngobrol tentang apa yang disukainya, misalnya olahraga, musik, teman, dan lain-lain. Masak daging kesukaan atau latihan musik bersama.
- Matikan televisi dan handphone, karena mereka adalah virusnya free-time. Dengarkan anak-anak! Pandangi dan berikan perhatian penuh untuk mereka! Lets have fun together! :-)
2. Keeping it Positif (Tetap Positif)
Tetaplah positif meski anak-anak membuat kamu stres. Ketika kamu mengatakan, "Stop, jangan lakukan itu!" Justru anak-anak akan semakin melakukan hal tersebut. Tetap positif, beri arahan yang baik dan puji mereka. Beberapa hal yang bisa dilakukan agar tetap positif, diantaranya :
- Katakan perbuatan atau tingkah laku yang kamu inginkan, dengan kata-kata positif. Misalnya, "Letakkan bajumu di tempatnya!" bukan kata negatif seperti "Jangan membuat berantakan!". Berbicara dengan suara keras hanya akan memicu stress dan kemarahan. Ambil perhatian mereka dengan memanggil nama, misalnya.
- Puji mereka jika melakukan hal yang baik. Cobalah untuk memberikan pujian jika mereka melakukan sesuatu yang baik. Mereka mungkin tidak menunjukkan hal tersebut, tapi kamu bisa melihatnya.
- Sadarilah! Bahwa anak-anak tidak semuanya dapat mewujudkan apa yang kita minta. Sulit baginya untuk tetap diam sepanjang hari. Mereka hanya bisa diam selama 15 menit sementara kita berada dalam panggilan.
- Bantu hubungan sosial anak remaja. Mereka butuh berkomunikasi dengan teman-temannya. Dampingi penggunaan sosial media dan cara physical distancing lainnya. Kalian bisa bersama-sama, kan?
3. Structure Up (Mengorganisasi/mengatur)
Covid-19 telah mengubah rutinitas harian di kantor, rumah dan sekolah. Hal ini sulit bagi anak-anak. Cobalah membuat daftar aktivitas harian.
- Buat rutinitas harian yang fleksibel tapi konsisten. Ini akan membantu anak-anak merasa aman dan berperilaku lebih baik. Anak-anak atau remaja dapat membantu merencanakan rutinitas harian, misalnya membuat jadwal sekolah. Masukkan jadwal olahraga juga, agar anak-anak tetap rileks setelah menghabiskan banyak energi untuk melakukan aktivitas harian.
- Ajarkan anak-anak menjaga jarak. Jika daerah sekitar aman, biarkan mereka sesekali di luar ruangan. Selain itu, tempel tulisan atau gambar di luar rumah, agar orang-orang dapat mengetahui bahwa harus menjaga jarak. Lalu, kamu bisa meyakinkan anak-anak dengan obrolan tentang bagaimana kamu menjaga jarak. Dengar saran mereka dan ajak mereka berbicara dengan serius.
- Lakukan aktivitas cuci tangan yang bersih dengan ceria. Bernyanyi selama 20 detik lalu cuci tangan. Puji bagi siapa yang cici tangan sesuai prosedur. Dan buat games kapan kita boleh menyentuh tangan dengan hitungan.
- Orang tua adalah contoh bagi anak-anak. Jika orang tua mengajarkan bagaimana cara menjaga jarak, mencuci tangan dan mengatur jadwal dengan baik, mereka akan belajar tentang hal itu.
4. Bad Behavior (Kebiasaan Buruk)
Semua anak bisa saja hilang kendali atau di luar kebiasaan. Hal ini bisa terjadi jika mereka lelah, lapar, takut atau sedang belajar tentang kemerdekaan bagi dirinya. Apa yang harus dilakukan ?
- Menindak-langsung. Ketahui segera kebiasaan buruknya dan segara lakukan tindakan langsung agar kembali melakukan kebiasaan baik. Lalu, hentikan sebelum dimulai! Jika mereka mulai gelisah, lakukan hal yang menyenangkan, mengajaknya bermain misalnya.
- Ambil Jeda. Merasa ingin berteriak? Ambil jeda. Tenangkan diri sekitar 10 detik, ambil napas dan hembuskan pelan-pelan. Lalu respon mereka dengan cara yang lebih tenang. Ketahuilah, jutaan orang tua mengatakan bahwa trik ini sangat membantu.
- Terapkan konsekuensi. Konsekuensi mengajarkan tanggung jawab kepada anak atas apa yang mereka lakukan. Selain itu, anak-anak akan belajar lebih dispilin lewat konsekuensi. Hal ini lebih efektif daripada hukuman memukul atau teriakan. Caranya : beri pilihan kepada anak untuk mengikuti aturan sebelum memberikan konsekuensi. Bersikaplah tenang ketika memberikan konsekuensi dan pastikan kamu bisa menerapkannya, misal menyita HP anak yang remaja selama satu pekan, akan sulit diterapkan. Tetapi, menyitanya selam satu jam, itu lebih realistis. Ketika konsekuensi berakhir, beri kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu yaang baik (sebelumnya salah), lalu pujilah ia.
- Gunakan tips 1-3. Satu orang satu waktu, puji perbuatan baik dan rutinitas yang konsisten untuk menanggulangi kebiasaan buruk pada anak. Beri anak-anak dan remaja tugas yang sesuai dengan kemampuannya. Jika berhasil melakukannya, berikan pujian terbaik.
5. Keep Calm and Manage Stress (Tetap Tenang dan Kelola Stres)
Situasi ini adalah situasi yang penuh dengan tekanan. Kondisikan ketenangan diri sendiri, maka kamu akan bisa mendukung aktivitas anak-anak di rumah.
- Kamu tidak sendiri. Jutaan orang tua memiliki kekhawatiran yang sama denganmu. Temukan seseorang yang bisa diajak bicara tentang apa yang dirasakan. Dengarkanlah mereka, lalu hindari sosial media yang hanya akan mengundang kepanikan.
- Istirahat! Kamu pasti membutuhkan waktu istirahat. Ketika anak-anak sedang tidur, lakukan hal rileks dan menyenangkan dan buat daftar aktivitas kesehatan yang disukai. Karena kamu layak mendapatkannya!
- Dengarkan anak-anak! Terbukalah dan dengarkan mereka. Anak-anak akan mencarimu untuk memberikan support. Dengar apa yang mereka ceritakan tentang perasaannya, lalu berikan kenyamanan pada mereka. Maa syaa Allah!
- Take a pause! Pertama, bersiap-siap. Temukan posisi paling nyaman. Kaki mendatar di lantai lalu letakkan kedua tangan di pangkuan. Pejamkan kedua matamu. Kedua, pikirkan dan rasakan tubuh. Tanyakan kepada diri sendiri ,"apa yang sedang dirasakan sekarang?" Perhatikan jawaban perasaan kamu, baik atau buruk, bahagia atau sedih, sakit atau tegang. Ketiga, fokus pada pernapasan. Dengar setiap tarikan dan hembusannya. Kamu bisa meletakkan tangan di perut untuk merasakan naik turunnya pernapasan. Kamu juga mungkin harus mengatakan, "Aku baik-baik saja. Apapun yang terjadi, semua akan baik-baik saja." Lalu dengarkan lagi suara pernapasanmu. Keempat, kembalilah. Cermati apa yang dirasakan pada seluruh tubuh, dan mulailah mendengar suara di sekitar ruangan. Kelima, tanyakan kepad diri sendiri "Apakah saya sudah merasa berbeda dari sebelumnya?". Jika sudah siap, bukalah mata perlahan-lahan. :-)
6. Talking about Covid-19 (Berbinicang-bincang tentang Covid-19)
Lakukan perbincangan tentang Covid-19 bersama anak-anak. Menutupi atau merahasiakannya tidak akan bisa melindungi mereka. Jujur dan terbukalah, mereka akan siap mendengar apapun, lalu pastikan bahwa mereka mengerti.
- Terbuka dan mendengar. Izinkan anak berbicara sepuasnya terlebih dahulu. Kemudian tanyakan beberapa pertanyaan lalu pastikan mereka benar-benar mengerti.
- Jujur. Jawablah setiap pertanyaan dengar benar. Percayalah bahwa mereka cukup mengerti.
- Suportif. Anak-anak mungkin merasa takut dan bingung. Ikutlah merasakan apa yang mereka rasa. Kemudian katakan bahwa kamu ada untuk mereka. Keren!
- Boleh untuk tidak memeberikan jawaban. Misal, ketika anak bertanya dan tidak tahu jawabannya, katakan "Kami tidak tahu, tapi kita akan pikirkan itu". Gunakan kesempatan ini untuk belajar hal baru bersama anak-anak.
- Pahlawan bukan pembuli. Katakan kepada anak-anak bahwa Covid-19 tidak berhubungan dengan bagaimana penampilan seseorang, darimana mereka berasal, atau bahasa apa yang digunakan. Ajarkan kepada mereka untuk berkasih sayang dan peduli dengan orang-orang yang sakit. Ceritakan juga bagaimana orang-orang yang berhenti bekerja hanya karena mereka peduli dengan orang yang sakit.
- Akhiri dengan catatan yang baik. Pastikan kembali anak-anak dalam keadaan baik. Katakan kepada mereka, bahwa mereka boleh menceritakan apapun dan kapanpun. Lalu lakukanlah (lagi) kegiatan yang menyenangkan.
Selamat melewati hari-hari yang produktif dan membahagiakan untuk semua keluarga di Indonesia dan dunia! Tetaplah optimis bahwa semua akan baik-baik saja.
Artikel ini ditulis dengan menerjemahkan informasi grafis dari website World Health Organization.
Tips-tips ini bisa dilakukan tidak hanya oleh para orang tua, tetapi juga bagi para pekerja WFH dimanapun berada. Hanya mungkin beberapa bagian membutuhkan penyesuaian saja.
Semoga bermanfaat!!!







Kereen mbak
BalasHapusWah, terimakasih ya.. Mohon doany🙏🏻
HapusMantul, Trimakasih mbak.. Sangat bermanfaat
BalasHapusSama3 unknown.. 🤓
Hapus